Pembajakan Musik Indonesia

Industri musik Indonesia menghadapi kerugian harian 16.000.000.000 Rupiah (US $1,65 juta) per hari karena unduhan online ilegal, dan sistem pendaftaran paten yang kompleks di negara ini sangat tidak membantu situasi tersebut.

Mengutip angka dari Asosiasi industri rekaman Indonesia (AIRI), The Jakarta Post melaporkan hari Sabtu lalu yang merajalela pembajakan online telah meruntuhkan industri musik lokal.

Pembajakan Musik Indonesia Sudah Merajalela

Tidak kurang dari 6.000.000 orang setiap hari secara ilegal akan mengkonsumsi konten musik dan ini telah mengakibatkan penurunan tajam dalam penjualan CD musik, dengan hanya 11.000.000 eksemplar dijual di 2012 dibandingkan dengan rata-rata tahunan 90.000.000 salinan beberapa tahun yang lalu.

Euis Saedah, Direktur Jenderal usaha kecil dan menengah di Kementerian Perindustrian Indonesia, mengatakan sementara kampanye anti pembajakan pemerintah diluncurkan 13 tahun yang lalu, kesadaran masyarakat akan hak kekayaan intelektual (HKI) tetap rendah.

Pembajakan Musik Indonesia Sudah Merajalela

Situasinya tidak terbantu dengan sistem IPR yang kompleks dimana artis lokal dapat memperoleh hak cipta untuk karya sastra dan artistik mereka. Laporan mencatat proses pengajuan hak cipta secara lokal dilakukan melalui pendaftaran berbasis kertas yang rumit, dan Suryani Motik, Ketua kelompok pengusaha pribumi Indonesia, mengatakan itu bisa memakan waktu sekitar 18 bulan untuk mendapatkan hak cipta atau paten.

Pembajakan Musik Indonesia1

General Manager Asiri Ventha Lesmana mengatakan setiap tahun ada sekitar 2,8 miliar lagu yang diunduh masyarakat Indonesia, melalui website ilegal.

“Ini berdampak pada kerugian besar terhadap semua pihak yang terlibat dalam industri musik,” kata Ventha di Jakarta. Asiri, kata dia yang menaungi sekitar 80 industri rekaman di Indonesia. Dari jumlah tersebut terdapat sebanyak 77 industri rekaman yang merupakan produser lokal dan sisanya merupakan dari luar Indonesia.

Menurutnya, pemerintah wajib menutup website yang mengunduh musik dengan gratis, karena dapat merugikan industri musik di tanah air. Ia mengatakan program Infringing Website List (IWL), yang bertujuan untuk mengurangi pemasangan dan pendapatan iklan dari situ-situs pembajakan, sangat penting untuk diadakan.

Dengan program tersebut, kata dia, mampu mengurangi website pembajakan hingga bisa melindungi hak cipta para stakeholder musik dan film di tanah air. Sejauh ini sudah lebih dari 300 situs pembajakan baik musik dan film yang telah diblokir.