Teknik Vokal Unik Countertenor Memungkinkan Pria Bernyanyi Seperti Perempuan

Teknik vokal unik countertenor merupakan sebuah kemampuan khusus di mana ia memungkinkan seorang penyanyi pria mengeluarkan suara layaknya perempuan. Countertenor kini melesat naik menjadi mega bintang baru dalam bidang musik tema klasik, padahal seratus tahun lalu ia menyimpan catatan sejarah mengerikan.

Sebelumnya, marilah kita berkenalan sedikit dengan tipe suara berjenis vokal countertenor yang sangat fenomenal sekaligus mencengangkan ini. Saking langkanya, siapapun bisa jadi akan sulit mempercayai telinganya karena baru saja mendengarkan jenis suara yang mungkin belum tentu ia temui 2 kali seumur hidupnya.

Teknik Vokal Unik Countertenor Memungkinkan Pria Bernyanyi Seperti Perempuan

Kita sebelumnya telah terbiasa melihat seorang pria bernyanyi dengan nada tinggi mengandalkan metode  vokal soprano perempuan. Misalnya saja vokalis band klasik Bee Gees yang seringkali memakai teknik falsetto supaya bisa mengimbangi nada tinggi melengking yang dihasilkan oleh wanita.

Lain lagi ceritanya dengan vokalis yang bernyanyi secara countertenor pada lagu klasik sebab ia bukan memanipulasi suaranya supaya mendekati wanita. Pita suaranya memang murni menghasilkan suara tersebut sehingga hasilnya adalah vokal kuat dan tebal namun bersih layaknya suara bidadari dari khayangan.

Countertenor merupakan fenomena langka pada bidang tarik suara sepanjang permulaan abad ke 20 sehingga termasuk topik bersejarah dan panjang. Kisah perjuangannya begitu menyeramkan sehingga bila kita menelisik jauh ke belakang, iklimnya beda sekali dengan apa yang terjadi pada masa sekarang.

Teknik Vokal Unik Countertenor Menyimpan Sejarah Kelam

Kita mengenal para pemilik teknik vokal unik countertenor misalnya seperti Alfred Deller, Andreas Scholl, James Bowman, serta David Daniels. Mereka semua mendapat pujian dari berbagai macam negara di seluruh penjuru dunia musik klasik, karena vokalis solo pria jarang sekali ada yang memiliki tipe suara semacam ini.

Kurang lebih berkaca pada empat puluh tahun ke belakang, kita tahu bahwasanya penyanyi berteknik countertenor masih sangat sedikit sekali. Mereka belum berani menampakkan diri pada khalayak ramai karena khawatir akan menerima penolakan akibat perbedaan suaranya yang berbeda jauh dari pria kebanyakan.

Teknik Vokal Unik Countertenor Menyimpan Sejarah Kelam

Baru – baru ini, entah mengapa mendadak saja penyanyi countertenor mulai bermunculan berkaitan dengan bangkitnya repertoar baroque. Mereka menginginkan tipe suara lelaki yang memiliki ciri khas persis seperti seorang Castrato di mana hal tersebut terasa mustahil untuk ditemukan kembali.

Castrato bukanlah jenis profesi ringan seperti alunan pada hiburan budaya musik indie yang santai dan mendayu – dayu membuat hati menjadi nyaman. Castrato adalah tipe suara pria yang memiliki ciri khas yaitu berbunyi sangat bersih seperti seorang anak kecil yang belum akil balik.

Pada faktanya memang demikian, yaitu penyanyi Castrato mendapatkan suaranya karena menjalani kebiri pada saat ia masih kecil. Akibatnya, jakun pada lelaki tersebut menolak untuk tumbuh dengan normal sehingga suaranya seakan ‘terperangkap’ di level kanak – kanak.

Dewa Dalam Bidang Musik Rock Sepanjang Masa

Teknik vokal unik countertenor berasal dari sebuah cara menjangkau nada yang sangat tinggi berkaitan dengan kemampuan otot laring meregang sedemikian rupa. Udara yang masuk melalui pita suara tersebut akan membuat resonansi pada lapisan luar tertipis miliknya sehingga terciptalah suara ajaib lengkingan super tinggi.

Meskipun seringkali mendapat hinaan karena publik menganggapnya sebagai seorang pria kemayu, namun itu merupakan hal yang normal. Setiap laki – laki normal memiliki kemampuan yang memungkinkannya untuk bernyanyi dengan nada falsetto, perbedaannya hanya di intensitas latihan saja.

Dewa Dalam Bidang Musik Rock Sepanjang Masa Menggunakan Teknik Vokal Unik Countertenor

Ada juga anggapan yang berkata bahwasanya kita bisa mengibaratkan jenis countertenor sebagai sebuah mobil balap formula one di lintasan arena sirkuit. Bayangkan seorang lelaki menerapkan teknik vokal seperti itu sepanjang dia bernyanyi hingga selesainya aktifitas tersebut dari awal hingga akhir.

Menjadi seorang Castrato pada abad sekitar 17 atau 18 bukanlah sebuah perkara menyenangkan karena harus mengalami perlakukan tidak manusiawi. Sulit mempercayai bahwa ada banyak anak laki – laki yang dikebiri sebelum mengalami pubertas hanya demi mempertahankan kualitas suara tinggi dan bersih layaknya bocah.

Dengan berdalih demi nama sebuah seni, hak asasi manusia dikorbankan seperti tidak ada harganya bahkan disetujui oleh Santo Paulus di Vatikan, Roma, pada saat itu. Misalnya seperti Farinelli, bintang countertenor yang begitu dipuji bagaikan dewa di bidang musik rock jika membandingkannya dengan masa sekarang.